Recent Posts

Recent Comments

Popular Posts

Tutorial Blog

Katanya Temen Nih

Site Info

tab 1 - Click >> Edit

Friend Link

Diberdayakan oleh Blogger.

tab 3 - Click >> Edit

tab 2 - Click >> Edit

Tab 4 - Click >> Edit

Reader Community

About Me

Followers

Blog Archive

Search

Memuat...

Kamis, 08 Desember 2011

KESIMPULAN TENTANG REVOLUSI

Mengenai masalah tentang negara yang sangat menarik perhatian kita ini, Marx mengihtisarkan kesimpulan-kesimpulannya dari Revolusi 1848-51 dalam argumentasi berikut ini yang termuat dalam Brumaire(4) ke-18 dari Louis Bonaparte :(5)

"Tetapi revolusi adalah radikal. Ia masih dalam perjalanan melalui tempat pensucian arwah. Ia melaksanakan usahanya menurut metoda. Sampai tanggal 2 Desember 1851 (hari berlangsungnya kudeta Louis Bonaparte) ia telah menyelesaikan separuh dari pekerjaan persiapannya, sekarang ia sedang menyelesaikan separuh yang lainnya. Pertama-tama ia menyempurnakan kekuasaan parlementer, supaya menggulingkannya. Sekarang, setelah ini tercapai olehnya ia menyempurnakan kekuasaan eksekutif, menyederhanakannya sampai pada pernyataannnya yang paling murni, mengucilkannya, mempertentangkannya terhadap dirinya sendiri sebagai satu-satunya sasaran umpatan, supaya dapat memusatkan penghancurannya terhadap dia" (huruf miring dari kami). Dan apabila ia selesai melakukan separuh yang kedua dari perkerjaan persiapannya, Eropa akan melompat dari tempat duduknya dan berteriak gembira: bagus galianmu tikus mondok tua!

"Kekuasaan eksekutif ini dengan organisasi birokrasi serta militernya yang sangat hebat dengan mesin negaranya yang serba rumit dan cerdik, yang meliputi lapisan-lapisan luas, dengan barisan pegawainya sejumlah setengah juta orang, di samping tentara sebesar setengah juta pula, badan yang bersifat parasit mengerikan ini, yang menjerat tubuh masyarakat Perancis seperti jala dan menyumbat segala pori-pori di kulitnya, terjadi pada masa monarki absolut, di waktu keruntuhan sistem feodal, dan jasad parasit itu telah membantu mempercepat keruntuhan iniÉ." Revolusi Perancis yang pertama telah mengembangkan sentralisasi, "tetapi pada saat yang bersamaan" ia menambahkan "keluasan, sifat dan jumlah agen-agen kekuasaan pemerintahan. Napoleon menyempurnakan" mesin negara ini. Monarki Legitimis(6) dan Monarki Juli(7) "tidak menambah apapun juga kecuali pembagian kerja yang lebih besarÉ. Akhirnya, dalam perjuangannya menentang revolusi, republik parlementer menemukan dirinya ternyata terpaksa, bersama dengan tindakan-tindakan penindasan, memperkuat sarana-sarana dan sentralisasi kekuasaan pemerintah. Semua penggulingan kekuasaan menyempurna kan mesin ini, dan bukan menghancur kannya" (huruf miring ini dari kami). Partai-partai yang silih berganti memperebutkan dominasi menganggap direbutnya bangunan negara yang maha besar ini sebagai barang rampasan yang terpenting bagi si pemenang". (Brumaire ke-18 dari Louis Bonaparte, halaman 98-99, edisi ke-empat, Hamburg, 1907)(8)

Dalam argumen yang patut sekali diperhatikan ini Marxisme mengambil langkah raksasa ke depan dibandingkan dengan Manifesto Komunis. Di dalam yang tersebut belakangan tadi, masalah tentang negara masih diperlakukan secara abstrak benar, dalam kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang paling umum. Dalam bagian karangan yang dikutip di atas tadi masalah itu dibahas dengan konkrit dan kesimpulannya adalah sungguh sangat tepat, pasti, praktis, dan dapat diraba: semua revolusi yang telah terjadi sampai pada saat ini menyempurnakan mesin negara, padahal ia harus dirusakkan, dihancurkan.

Kesimpulan ini adalah hal yang terpenting dan fundamental dalam ajaran Marx mengenai negara. Dan adalah justru poin yang fundamental inilah yang bukan hanya telah sepenuhnya dilupakan oleh partai-partai Sosial-Demokratik resmi, tetapi bahkan terang-terangan didistorsikan (seperti yang akan kita lihat nanti) oleh teoritikus paling terkenal dari Internasionale Kedua, Karl kautsky.

Manifesto Komunis memberikan suatu ikhtisar umum tentang sejarah, yang mengharuskan kita untuk menganggap negara sebagai alat kekuasaan kelas dan membawa kita pada kesimpulan yang tak dapat dihidari lagi bahwa proletariat tidak dapat menggulingkan borjuasi tanpa terlebih dulu merebut kekuasaan politik, tanpa memperoleh kekuasaan-unggul politik, tanpa mengubah negara menjadi "proletariat yang terorganisir sebagai kelas yang berkuasa"; dan bahwa negara proletariat ini akan mulai "melenyap" segera setelah ia memperoleh kemenangan, karena negara adalah tidak perlu dan tidak dapat ada dalam suatu masyarakat di mana tidak terdapat antagonisme kelas. Masalah tentang bagaimana, dari sudut pandang perkembangan sejarah, penggantian negara borjuis oleh negara proletar itu harus terjadi tidaklah diajukan di sini.

Ini adalah masalah yang diajukan dan dijawab oleh Marx dalam tahun 1852. Setia pada filsafatnya, yaitu materialisme dialektik, Marx mengambil sebagai landasannya pengalaman sejarah dari tahun-tahun revolusi, 1848 sampai 1851. Di sini, sebagai di manapun juga, ajaran Marx adalah pengikhtisaran pengalaman yang disinari oleh suatu pandangan filsafat yang matang tentang dunia dan pengetahuan yang kaya mengenai negara.

Masalah tentang negara dikemukakan secara kongkrit: bagaimanakah terjadinya negara borjuis, mesin negara yang diperlukan untuk kekuasaan borjuis, ditinjau dari segi sejarah? Perubahan-perubahan apakah yang dialami olehnya, evolusi apakah yang dijalankannya dalam revolusi-revolusi borjuis (9) dan dihadapan aksi-aksi independen dari kelas-kelas tertindas? Apakah tugas-tugas proletariat dalam hubungan dengan mesin negara ini?

Kekuasaan negara yang tersentralisasi yang khas bagi masyarakat borjuis terjelma dalam periode jatuhnya absolutisme. Dua lembaga paling karakteristik dari negara: birokrasi dan tentara tetap. Dalam karya-karya mereka, Marx dan Engels berulang kali menunjukan bahwa borjuasilah yang melalui ribuan jerat dihubungkan dengan kedua lembaga itu. Pengalaman setiap buruh menjelaskan hubungan ini dengan cara yang luar biasa terangnya dan mendalam. Dari pengalamannya sendiri yang pahit, kelas buruh belajar mengenal hubungan itu; itulah keterangannya mengapa mudah bagi ia untuk menangkap dan begitu teguh mempelajari ajaran yang menunjukkan hal tak dapat dihindarinya pertalian tersebut, suatu ajaran yang oleh kaum demokrat borjuis kecil disanggah karena ketidaktahuan dan dengan sembarangan, atau, lebih sembarangan lagi, mengakui "dalam garis besarnya" sementara itu melupakan hal mengenai menarik kesimpulan-kesimpulan praktis yang sesuai.

Birokrasi dan tentara tetap adalah "parasit" pada tubuh masyarakat borjuis --parasit yang dilahirkan oleh antagonisme-antagonisme internal yang mengoyak masyarakat itu, tetapi juga parasit yang "menyumbat" semua pori-pori yang vital. Oportunisme ala-Kautsky yang sekarang ini menguasai Sosial-Demokrasi resmi menganggap pandangan bahwa negara adalah organisme parasit sebagai sifat yang khas dan luar biasa dari anarkisme. Dengan sendirinya distorsi terhadap Marxisme seperti ini merupakan suatu kesempatan yang sangat menguntungkan sekali bagi kaum filistin yang telah merendahkan Sosialisme menjadi sesuatu yang hina tiada tara berupa pembenaran serta pembagusan terhadap perang imperialisme dengan menerapkan padanya konsep "membela tanah air"; tetapi ini, biar bagaimanapun juga, tak usah dipersoalkan lagi adalah distorsi.

Perkembangan, penyempurnaan dan pengokohan aparatus birokrasi dan militer berlaku selama semua revolusi borjuis yang berkali-kali itu yang disaksikan oleh Eropa sesudah jatuhnya feodalisme. Teristimewa, justru borjuis kecil itulah yang tertarik pada pihak borjuasi besar dan ditaklukkan olehnya sampai derajat yang luas dengan bantuan aparat ini, yang mencakupi lapisan luas dari kaum tani, pengrajin kecil, pedagang dan semacamnya dengan jabatan-jabatan yang menurut perbandingan adalah enak, tenang dan terhormat yang mengangkat para pemegangnya di atas Rakyat. Harap perhatikan apa yang terjadi di Rusia selama enam bulan yang menyusul 27 Februari 1917 (10). Jabatan-jabatan pemerintah yang dulunya diutamakan diberikan kepada anggota-anggota Seratus Hitam (11) sekarang ini menjadi hasil rampasan bagi kaum Kadet (12). Menshevik dan Sosialis Revolusioner. Tiada seorangpun yang betul-betul memikirkan untuk memperkenalkan adanya sesuatu reformasi yang serius; setiap daya upaya diperbuat untuk menundanya "sampai Majelis Permusyawarahan bersidang"; dan untuk dengan mantap menunda pemanggilan sidang Majelis dalam hal membagi hasil rampasan, menduduki jabatan-jabatan enak seperti menteri, wakil menteri, gubernur-jenderal, dsb, dsb! Permainan mencari kombinasi-kombinasi yang telah dimainkan dalam membentuk pemerintah hanyalah, pada hakekatnya suatu pernyataan tentang pembagian dan pembagian-kembali "hasil-hasil rampasan" ini, yang telah terjadi di atas dan di bawah, diseluruh negeri, di setiap bahagian dari pemerintah pusat dan lokal. Enam bulan antara 27 Febuari dan 27 Agustus 1917, dapat diikhtisarkan, dengan obyektif tak dapat dipertengkarkan lagi, sebagai berikut: Pembagian-pembagian jabatan resmi dilaksanakan dan "kekeliruan-kekeliruan" dalam pembagian itu dibetulkan dengan beberapa pembagian baru.

Tetapi makin "dibagikan kembali" aparat birokrasi itu di kalangan berbagai partai borjuis dan borjuis kecil (di kalangan kaum Kadet, Sosialis-Revolusioner, dan Menshevik dalam kejadian di Rusia), makin jernihlah kelas-kelas tertindas dan proletariat akan pemimpinnya, menjadi sadar akan permusuhannya yang tak terdamaikan terhadap seluruh masyarakat borjuis. Itulah keterangannya mengapa menjadi perlu bagi semua partai borjuis, bahkan juga untuk yang paling demokratis dan "revolusioner demokratis" di antara mereka itu, untuk mengintensifkan tindakan-tindakan penindas terhadap proletariat revolusioner, untuk memperkokoh aparat penindasan, yaitu, mesin negara itu sendiri. Jalannya kejadian-kejadian memaksa revolusi "untuk memusatkan semua kekuatan penghancurnya" terhadap kekuasaan negara, dan untuk menetapkan tugas bagi dirinya sendiri, bukannya untuk menyempurnakan mesin negara, tetapi tugas untuk membinasakan dan menghancurkannya.

Bukanlah pertimbangan secara logik, tetapi perkembangan yang sebenarnya dari kejadian-kejadian pengalaman hidup dari tahun 1848-51, itulah yang menuju pada masalah yang disajikan secara demikian ini. Sampai ke derajad mana Marx dengan teguh dan seksama berpegang pada landasan kokoh kuat dari pengalaman sejarah, dapatlah dilihat dari kenyataan bahwa, dalam tahun 1852, ia belum dengan kongkrit mengajukan persoalan tentang apa yang harus menggantikan mesin negara yang harus dihancurkan itu. Pengalaman belum dapat cukup memberikan bahan untuk pemecahan persoalan itu, yang kemudian oleh sejarah ditempatkan dalam agenda berikutnya, yaitu pada tahun 1871. Dalam tahun 1852 apa yang mungkin dapat ditentukan dengan ketepatan berdasarkan penanggapan ilmiah adalah bahwa revolusi proletar telah mendekati tugas "memusatkan semua kekuatan penghancurnya". Terhadap kekuasaan negara, tugas "membinasakan" mesin negara.

Di sini dapat timbul persoalan: apakah tepat menggeneralisasikan pengalaman, tanggapan-tanggapan dan kesimpulan-kesimpulan Marx, menerapkannya pada lapangan yang lebih luas dari pada sejarah Perancis selama tiga tahun 1848-1851? Sebelum memulai dengan pembahasan mengenai masalah ini marilah kita terlebih dulu mengingat kembali suatu pendapat yang diajukan oleh Engels, dan kemudian mempelajari kenyataan-kenyataan. Dalam kata pengantarnya pada edisi ke-tiga dari Brumaire Ke-18 Engels menulis:

"...Perancis adalah negeri di mana. lebih dari pada di negeri lain mana pun juga, perjuangan kelas historis setiap kali mencapai akhir yang menentukan, dan di mana, secara konsekwen, telah terwujud dalam garis-garis besar yang paling tajam bentuk-bentuk politik yang berubah-ubah, di mana bergerak perjuangan kelas itu dan di mana hasil-hasilnya menyatakan diri. Perancis, pusat feodalisme dalam Jaman Pertengahan, negeri teladan dalam hal monarki yang bersatu, bersandar pada pangkat-pangkat sejak jaman Pencerahan, Perancis telah menghancurkan feodalisme, dalam masa Revolusi Besar dan menegakkan kekuasaan murni borjuasi dengan keklasikan murni yang tak dapat ditandingi oleh sesuatu negeri lain yang manapun di Eropa. Dan perjuangan proletariat yang sedang bangkit menentang borjuasi yang berkuasa di sini muncul dalam bentuk yang tajam, akut, yang tidak dikenal oleh negeri lain manapun". (halaman 4, edisi 1907)(13)

Kalimat yang terakhir itu sudah menjadi basi, oleh karena sejak tahun 1871 terjadi suatu keredaan dalam perjuangan revolusioner proletariat Perancis: biarpun ada keredaan ini berapa lamapun ia berlangsung, ia sedikitpun tidak menyisihkan kemungkinan bahwa, dalam revolusi proletar yang akan datang, Perancis dapat memperlihatkan dirinya sebagai suatu negeri klasik dari perjuangan kelas sampai suatu garis akhir.

Bagaimanapun, marilah kita memandang secara umum ke arah sejarah negeri-negeri yang sudah maju pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Kita akan melihat bahwa proses yang sama itu telah berjalan dalam bentuk-bentuk yang lebih perlahan, lebih beraneka warna, di lapangan yang sangat lebih luas: pada satu pihak, perkembangan "kekuasaan parlemen" baik di negeri-negeri Republiken (Perancis, Amerika, Swiss) maupun di negeri-negeri monarkis (Inggris, Jerman sampai suatu derajad tertentu, Italia, negeri-negeri Skandinavia, dsb.); pada pihak lain, suatu perjuangan untuk kekuasaan di kalangan berbagai macam partai borjuis dan borjuis kecil yang membagikan dan membagikan kembali "hasil rampasan" berupa kedudukan-kedudukan tinggi, sedang dasar-dasar masyarakat borjuis tetap tidak berubah; dan akhirnya, penyempurnaan dan pengokohan "kekuasaan eksekutif" aparat-aparat birokrasi dan militernya.

Tak ada keraguan sedikitpun bahwa ciri-ciri ini tadi adalah biasa bagi seluruh evolusi modern dari semua negara kapitalis pada umumnya. Dalam tiga tahun 1848-51 Perancis memperlihatkan, dalam bentuk yang cepat, tajam, dan terkonsentrasi, proses yang itu-itu juga dari perkembangan yang khas bagi seluruh dunia kapitalis.

Imperialisme --jaman kapital bank, jaman monopoli-monopoli kapitalis raksasa, jaman perkembangan kapitalisme monopoli menjadi kapitalisme monopoli-negara-- telah mendemonstrasikan dengan kekuatan yang khusus suatu pengokohan luar biasa dari "mesin negara" dan suatu pertumbuhan yang tiada bandingnya sebelumnya dari aparat birokrasi dan militernya dalam hubungan dengan pengintensifan tindakan-tindakan penindas terhadap proletariat baik di negeri-negeri monarkis maupun di negeri-negeri republik yang paling merdeka.

Sejarah dunia sekarang ini tak usah diragukan lagi sedang menjurus dalam ukuran yang tak terbandingkan lebih luas dari pada dalam tahun 1852 ke arah "konsentrasi semua kekuatan" dari revolusi proletar pada "penghancuran" mesin negara.

Apa yang oleh proletariat hendak digunakan untuk mengganti itu telah ditunjukkan oleh bahan yang luar biasa mengandung pelajaran yang diberikan oleh Komune Paris

3. PENYAJIAN MASALAH OLEH MARX DALAM TAHUN 1852

Dalam tahun 1907, Mehring dalam majalah Neue Zeit (14)(vol. XXV, 2, hal. 164), menyiarkan cuplikan-cuplikan dari sepucuk surat Marx kepada Weydemeyer tertanggal 5 Maret 1852. Surat ini, di antara hal-hal lain, memuat observasi yang patut sekali diperhatikan seperti berikut ini:

"...Dan sekarang mengenai diri saya, bukanlah jasa saya ditemukannya adanya kelas-kelas dalam masyarakat modern dan juga ditemukannya adanya perjuangan di antara mereka itu. Jauh sebelum saya para ahli sejarah borjuis telah menguraikan perkembangan historis perjuangan kelas-kelas ini dan para ahli ekonomi borjuis menguraikan anatomi ekonomi dari kelas-kelas. Hal baru yang telah saya lakukan adalah membuktikan: 1) bahwa adanya kelas-kelas itu hanya lah bertalian dengan fase-fase kesejarahan khusus dalam perkembangan produksi [historische Entwicklungesphasen der Produktion]; 2)bahwa perjuangan kelas pasti menuju pada diktatur proletariat; 3) bahwa diktatur ini sendiri hanyalah merupakan peralihan ke arah penghapusan semua kelas dan ke arah masyarakat tanpa kelasÉ.."(15)

Dalam kata-kata tersebut Marx berhasil menyatakan dengan kejelasan yang menyolok, pertama, perbedaan pokok dan radikal antara ajarannya dengan ajaran para pemikir borjuasi paling terkemuka dan paling mendalam; dan kedua hakekat ajaran tentang negara.

Seringkali dikatakan dan ditulis bahwa inti dalam ajaran Marx adalah perjuangan kelas; tetapi ini tidak benar. Dan dari ketidakbenaran ini sangat sering lahir distorsi kaum oportunis atas Marxisme, pemalsuannya sedemikian rupa sehingga membuatnya dapat diterima oleh borjuasi. Karena doktrin perjuangan kelas tidak diciptakan oleh Marx, tetapi oleh borjuasi sebelum Marx, dan bicara secara umum ia dapat diterima oleh borjuasi. Mereka yang hanya mengakui perjuangan kelas belumlah Marxis; mereka mungkin masih berdiri dalam batas-batas pemikiran borjuis dan politik borjuis. Membatasi Marxisme pada doktrin tentang perjuangan kelas berarti memotong Marxisme, mendistorsikannya, memerosotkannya sampai berupa suatu yang dapat diterima oleh borjuasi. Hanya dialah seorang Marxis, yaitu yang meluaskan pengakuan atas perjuangan kelas sampai pada pengakuan atas diktatur proletariat. Inilah yang merupakan perbedaan paling mendalam antara orang Marxis dan borjuis kecil (maupun yang besar juga). Inilah batu ujian yang di atasnya pengakuan serta pengertian yang sesungguhnya tentang Marxisme diuji. Dan tidaklah mengejutkan bahwa ketika sejarah Eropa membawa kelas buruh berhadapan muka dengan masalah ini sebagai perkara praktis bukan hanya semua oportunis dan reformis, tetapi semua "Kautskyis" (orang-orang yang terombang-ambing antara reformisme dengan Marxisme) terbukti adalah filistin-filistin yang mengibakan hati dan demokrat-demokrat borjuis kecil yang menolak diktatur proletariat. Buku kecil Kautsky Diktatur Proletariat, diterbitkan bulan Agustus 1918, yaitu lama sesudah edisi pertama buku yang sekarang ini adalah suatu contoh yang bagus sekali tentang distorsi borjuis kecil terhadap Marxisme dan penolakan yang rendah terhadapnya dalam praktek, sementara secara hipokrit mengakuinya dalam kata-kata. (lihat famplet saya Revolusi Proletar dan Renegad Kaustky, Petrograd dan Moskow, 1918).

Oportunisme dewasa ini dalam pribadi wakil utamanya, si mantan Marxis, Karl Kautsky, cocok sepenuhnya dengan karakteristik Marx tentang posisi borjuis yang dikutip di atas, karena oportunisme ini membatasi pengakuan atas perjuangan kelas pada bidang hubungan-hubungan borjuis. (Di dalam bidang ini, di dalam kerangka kerja ini, tidak ada seorang liberal terpelajarpun akan menolak untuk mengakui perjuangan kelas "pada prinsipnya"!) Oportunisme tidak meluaskan pengakuan atas perjuangan kelas sampai pada soalnya yang terpenting, pada periode transisi dari kapitalisme ke Komunisme, pada periode penggulingan dan penghapusan sepenuhnya dari borjuasi. Pada kenyataannya, periode ini tak terelakkan lagi adalah periode dari perjuangan kelas dengan kekerasaan yang belum pernah ada sebelumnya dalam bentuk-bentuk akut yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sebagai akibatnya, selama periode tersebut negara tidak boleh dihindari lagi haruslah negara yang demokratis secara baru (bagi proletariat dan kaum yang tidak bermilik pada umumnya) dan diktaturiat secara baru (menentang borjuasi).

Mari lanjutkan. Hakekat ajaran Marx tentang negara telah dikuasai hanya oleh mereka yang mengerti bahwa diktatur kelas yang tunggal adalah diperlukan tidak saja untuk setiap masyarakat berkelas pada umumnya, tidak saja untuk proletariat yang telah menggulingkan borjuasi, tetapi juga untuk seluruh periode sejarah yang memisahkan kapitalisme dari "masyarakat tanpa kelas", dari Komunisme. Bentuk-bentuk negara borjuis sungguh sangat bermacam ragam, tetapi hakekatnya adalah sama saja, semua negara ini bagaimanapun juga bentuknya, dalam analisa terakhir secara tak terelakkan adalah diktatur borjuasi. Peralihan dari kapitalisme ke Komunisme sudah tentu tidak dapat lain kecuali melahirkan kelimpahan serta keragaman yang sangat hebat dari bentuk-bentuk politik, tetapi hakekatnya secara tak terelakkan akan sama saja diktatur proletariat.

0 komentar:

DAFTAR ISI

About This Blog

Blog Archive

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP